Pada tanggal 06 Maret 2009 sekitar pukul 07.10 WITA, Sweety pergi keluar rumah melewati kolong pagar rumahku yang tepatnya terletak di Jalan Fransiscus Dotulong No. 138, Bitung, Sulawesi Utara. Aku yang berada di Jakarta, saat sedang bersiap-siap ke kampus, menerima telepon dari ayahku bahwa Sweety telah hilang. Jujur saja waktu yang kulewati bersama Sweety sangatlah singkat, hanya sebulan. Namun, kenangan yang terbangun dalam 30 hari itu sungguh-sungguh amat sangat bermakna bagiku. Sweety setiap hari terus menemaniku melakukan segala aktivitas.
Setiap kali aku membuka mata di pagi hari, setelah mengucap syukur pada Tuhan, hal berikut yang kulakukan adalah menuju ke rumahku bagian belakang, tepatnya tempat di mana kandang anjingku diletakkan. Ia sangat riang apabila mendengar langkah aku dan adikku yang semakin mendekat. Ia terus menggonggong ketika kami semakin mendekat dan melepaskan talinya. Jika aku belum bangun, maka adikku yang akan melepasnya dan membiarkannya lari ke kamarku. Ia tahu dengan jelas titik-titik tempat aku dan adikku selalu berada, yaitu kamar ayah dan ibuku. Sweety adalah anjing kecil lucu, polos, lugu, tapi termasuk cukup cerdas.
Setelah kami bermain sebentar sebelum adikku berangkat ke sekolah, aku bersiap-siap untuk mandi dan tahukah apa yang kulakukan? Setiap kali aku mandi entah itu pagi ataupun sore, aku selalu mengajaknya masuk ke dalam kamar mandi. Ya, iya menemaniku menikmati air yang mengalir, walaupun sebenarnya ia tidak suka air. Ia termasuk anjing yang tidak menyukai cuaca yang dingin, air yang dingin, Sweety adalah anjing yang berbulu tipis, tidak tebal, ia menyukai kehangatan. Setiap sore aku mandi bersama adikku, dan juga tidak lupa mengajaknya. Kami selalu bercanda, bermain-main dengannya. Ternyata dari situ, aku sadar bahwa ia cenderung lebih memilihku dibandingkan adikku. Adikku selalu sekolah, dan aku selalu di rumah dari pagi hingga menjelang malam, begitu seterusnya. Jadi, Sweety otomatis lebih banyak menghabiskan waktu bermain bersamaku. Ia anjing yang manja, ia mau makan bila ditemani, dan bahkan disuap. Aku sering menyuapinya makanannya, setiap dua minggu sekali aku selalu memandikannya, mengusapnya, menyisir bulunya yang sebenarnya tidak perlu disisir juga tidak apa-apa.
Setiap aku tidur siang, setiap aku nonton, setiap aku bermain komputer, Sweety selalu di sampingku. Ketika aku tertidur di atas tempat tidur Ayah dan Ibuku, ia akan pelan-pelan masuk ke bawah kolong tempat tidur. Ia senang dengan namanya kehangatan dan keempukan. Ia senang sekali kalau ia diajak tidur di sofa, ia akan tidur dengan nyaman di dekatku. Sesekali ia menaruh kepalanya di pahaku dan tertidur pulas. Aku cukup sering menaruhnya di pahaku dan kami nonton, tidur, atau berkomputer bersama. Ketika bersentuhan dengan Sweety, sungguh terasa hangat, panas sekali. Tubuhnya yang berdarah panas membuatku juga ikut-ikutan panas.
Setiap sore, jika di rumah sudah sepi, maka aku, adikku, dan Sweety, kami bertiga berlari-larian di taman rumah kami. Ia begitu riang, telinganya yang berdiri semakin tegang, dan lidahnya terjulur panjang mengikuti langkah kaki kami berdua yang lebih dulu berlari. Ia paling senang jika kami memerintahkan "Sweety, Go!", maka ia akan berlari melesat ke arah yang kami tunjukkan tadi.
Setiap kami sekeluarga pergi, terutama aku dan adikku ia terlihat begitu sedih dan sering menggonggong dengan wajah yang murung. Setiap kami pulang, begitu mendengan bunyi klakson mobil Grand Livina kami, beep beep, maka ia tahu kami sudah pulang. Ia langsung menggoyang-goyangkan ekornya dengan kencang sehingga menciptkan angin yang cukup sejuk untuk menghilangkan kepanasan seseorang, lidahnya menjulur dengan lancarnya ke depan, dan melompat-lompat kegirangan untuk diajak bermain.
Banyak sekali kenangan kami dengan Sweety, dari bangun pagi kami sudah bersama, hingga aku bekerja membantu pekerjaan kantor, seperti membayar gaji karyawan, ia tidak pernah jauh dariku sama sekali. Talinya selalu berada dalam genggamanku, tidak pernah kubiarkan dia jauh dariku, kecuali malam hari, saatnya kita tidur di tempat masing-masing. Semua orang tahu, bahwa aku adalah orang yang paling dekat dengannya selama aku pulang ke kampungku di Bitung, 30 hari penuh aku bersamanya. Sempat meninggalkannya selama tiga hari, aku menangis ketika mengingat Mini Pinscherku tercantik. Sehari sebelum aku berangkat ke Jakarta, aku menangis lagi mengingat bahwa aku akan meninggalkan ayah, ibu, adik, dan anjingku untuk kembali ke Jakarta dan mengikuti kuliah seperti biasa dan kembali lagi ke kampung setelah empat bulan berikut. Namun sayangnya, Sweetyku tersayang harus pergi jalan-jalan ke luar rumah tanpa sepengetahuan kami. Semoga Sweety masih berjodoh dengan kami. Tuhan, biarkanlah Sweety kembali kepada kami. Aku dan Adikku sungguh-sungguh merindukan saat-saat bersamanya, memeluknya, berlari, dan menggelitik perutnya seperti yang selalu kami lakukan padanya selama ini. Sweety, come back to us soon, we love you so much. Aku tetap berharap bahwa Sweety akan kembali ke rumah kami sesegera mungkin dalam keadaan baik-baik saja. Sweety, come home soon, we miss you so much.
Saturday, March 7, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment